Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di Indonesia

Widya Hapsari. “Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di Indonesia sebagai Langkah Mengatasi Krisis Energi Listrik Masa Depan. Pendidikan Teknik Elektro, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang. 2011.

Listrik merupakan hal yang paling vital dalam kehidupan masa kini. Kebutuhan daya pasok listrik yang semakin melambung membuat masyarakat harus menikmati pemadaman listrik bergilir dalam suatu periode tertentu. Krisis energi listrik juga dikeluhkan oleh PLN sebagai perusahaan pemasok listrik terbesar di Indonesia. Kapasitas listrik yang tersedia di Indonesia saat ini sebesar 30.000 MW. Jumlah tersebut baru bisa memenuhi kebutuhan 60% wilayah di Indonesia. Di tahun 2025 diperkirakan kebutuhan listrik mencapai 100.000 MW. Kekurangan pasokan listrik mencapai 70.000 MW.

Berbagai energi alternatif mulai menjamur untuk dibicarakan oleh beberapa kalangan. Salah satu energi alternatif yang ditawarkan adalah Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Indonesia sebagai negara anggota International Atomic Energy Agency (IAEA) melalui Kementerian Riset dan Teknologi dan Badan Tenaga Nuklir Nasional telah mempersiapkan PLTN di Indonesia.Indonesia telah memiliki modal awal PLTN sejak tahun 1965 dengan adanya pembangunan Reaktor Penelitian Triga di Bandung, Reaktor Kartini di Yogyakarta, dan Reaktor GA Siwabessy di Serpong, Tangerang. Pembangunan reaktor penelitian pada prinsipnya tidak jauh berbeda dengan reaktor pembangkit listrik, sehingga kemampuan sumber daya manusianya tidak perlu diragukan lagi.

Pemerintah juga telah menunjukkan political will dengan Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006 tentang penetapan berbagai sumber energi hingga tahun 2025, termasuk energi nuklir. Undang-Undang Ketenaganukliran Nomor 10 Tahun 1997 sebagai penjamin kerugian bila terjadi bahaya kecelakaan nuklir yang diratifikasi sesuai Konvensi di Wina. Sementara itu, perizinan dan pengoperasian PLTN diatur oleh Peraturan Presiden Nomor 43 Tahun 2006 di bawah lembaga pengawasan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten).

Penggunaan bahan baku nuklir untuk pembangkit listrik pun menuai banyak peneliti untuk membandingkan beberapa keuntungan PLTN dibanding dengan pembangkit listrik yang lainnya. Menurut seorang peneliti nuklir dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Dr. Andhang Widiharto dalam situs 24 Maret 2011, menyebutkan  bahwa:

Dari energi geotermal, pasokan listrik yang dihasilkan sekitar 27.000 MW sedangkan potensi sebesar itu tidak mungkin bisa dikembangkan seluruhnya atau hanya dapat terealisasi sekitar 9.000 MW. Untuk makro hidropower, potensi yang dimiliki adalah 75.000 MW dan realisasinya hanya 10.000 MW. Bila menggunakan energi surya untuk kapasitas 1 GW diperlukan area seluas 20 km2. Satu panel surya berukuran 1 m2 hanya menghasilkan 50 Watt listrik. Untuk biomassa 1.000 MW memerlukan area sekitar 300 km2. Sedangkan sebuah unit PLTN akan menghasilkan 1000 MW listrik, hanya memerlukan area 2 km2.

Mengutip pernyataan dari Jesse Ausubel  (2007:229) : “Terbarukan tidak berarti selalu hijau”. Hal ini mengingat jumlah emisi gas buang CO2 yang dihasilkan oleh PLTN hanya 1/30 dari pembangkit listrik yang berbahan bakar fosil. Selain itu area yang dibutuhkan untuk menggunakan energi alternatif cukup luas dan daya listrik yang dihasilkan juga masih kecil. Melihat potensi daya listrik yang dihasilkan oleh pembangkit-pembangkit listrik dari bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak bumi dan gas alam yang kurang signifikan, tentu saja pemerintah harus memikirkannya.

Gempa dan tsunami yang terjadi di Jepang pada 11 Maret 2011 lalu telah memicu kegagalan sistem pendinginan pada PLTN Fukushima Daichi. Selanjutnya, terjadilah ledakan hingga penyebaran material radioaktif ke lingkungan sekitar. Melihat hal tersebut, beberapa wilayah Indonesia yang rawan gempa dikhawatirkan kasus Jepang akan terulang di Indonesia. Oleh sebab itulah PLTN mulai menuai pro dan kontra di berbagai kalangan. Namun, berdasarkan peta zonasi gempa, Indonesia memiliki wilayah berpotensi gempa rendah, yakni Bangka Belitung, Kalimantan, dan bagian utara Banten. Wilayah yang lainnya berpotensi gempa tinggi dan sedang. Menurut ahli geodesi dari Institut Teknologi Bandung Dr. Irwan Meilano, “Terdapat perbedaan wilayah geografis Jepang dan Indonesia. Tak ada lokasi di Jepang yang tak rawan gempa, sementara Indonesia masih punya wilayah berpotensi gempa rendah. Dengan demikian, PLTN masih bisa dikembangkan”

Setelah mengetahui dampak yang ditimbulkan oleh suatu PLTN dibandingkan dengan pembangkit listrik yang lainnya, diharapkan masyarakat memiliki wawasan yang luas mengenai pembangunan PLTN di Indonesia. Selain itu pendirian PLTN merupakan penerapan fungsi diversifikasi, konservasi, dan pelestarian lingkungan. Namun, pembangunan PLTN di Indonesia harus memperhatikan kultur asli masyarakat lokal, mampu mengatasi trauma masa lalu yang berhubungan kecelakaan nuklir, penentuan lokasi pembangunan yang tepat, dan potensi sumber daya manusianya yang optimal. Dengan demikian diharapkan polemik yang terjadi di masyarakat mengenai trauma nuklir diharapkan dapat mereda dan pembangunan PLTN di Indonesia dapat diterima dengan tangan terbuka.

Mau Dapat Uang Jutaan Rupiah Setiap Bulan Secara Cepat dengan Cara Sederhana?
Strategi ini telah terbukti berhasil mendatangkan income puluhan juta rupiah dari internet pada bisnis kami sendiri dan menjadi aset online jangka panjang
  • Tips Membeli Domain dan Hosting Murah
  • Cara Buat Website KONVERSI TINGGI
  • Contek 100% Website Toko Online Sukses
  • Cara Meningkatkan Kepercayaan Customer
  • Rahasia Supplier Produk Murah dan LARIS
  • Rahasia Mengetahui Kota Peminat Produk
  • Panduan Sukses Bisnis Online Via Email
  We hate spam and never share your details.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *