Syukuri Dulu Baru Minta, Pasti Maknyus – Bagian 3 (termasuk untuk Anda yang sedang sakit atau terlilit hutang)

Oke, sahabat sinyalbisnis sekalian, artikel ini adalah lanjutan dari artikel Syukuri dulu baru minta, pasti maknyus – bagian 2. Dikisahkan: Ada sepasang pengantin baru, dan sang suami bernama Jono menghadiahi istrinya kain kerudung. Ia pilihkan yang terbaik dan termahal menurut dompetnya. Ia membayangkan betapa cantiknya sang istri jika mengenakan kerudung tersebut. Begitu sampai di rumah, istrinya tersenyum, menyenangkan dan bilang alhamdulillah terimakasih padanya.

Sahabat sinyalbisnis sekalian, apakah istri Jono sudah bisa dibilang bersyukur dengan sikap dan ucapan di atas? Sudah tapi, …. ya belum. Kenapa?? Tentu bukan hanya ucapan terima kasih yang diinginkan sang suami. Jangan-jangan kali itu istrinya bilang terimakasih, tapi beberapa bulan kemudian Jono sudah melihat kain kerudung tersebut sudah alih fungsi menjadi taplak meja atau malah lap pel :). Dan kalau sudah demikian Andaikan Anda jadi Jono, maukah lain kali membelikan lagi?

Jadi yang dinamakan bersyukur adalah setelah mengucapkan terimakasih, alhamdulillah. Sang istri mengenakan kain kerudung tersebut dan menjaganya agar kain itu menjadi istimewa yang kapanpun sang suami ingin melihat kecantikan istrinya berkerudung, kain kerudung itu siap untuk dipakai. Singkatnya, syukur adalah menggunakan pemberian sesuai kehendak sang pembeberi.

Tangan ini adalah pemberian Allah, bersyukurnya kita adalah jika tangan ini dapat kita fungsikan sebagaimana harapan sang pemberi. Mungkinkan untuk mencuri, korupsi? Menyakiti orang lain?

Lisan kita adalah pemberian Allah, bersyukurnya kita atas nikmat lisan, jika lisan ini dapat kita fungsikan sebagaimana kehendak sang pemberi. Tentu bukan untuk berbohong, menyinggung, mengiris-iris hati orang lain. Begitu pula pikiran dan telinga kita, sudahkah kita gunakan sebagaimana keinginanNya? Hati kita? Kaki kita? Hidung kita? Telinga kita? Pernafasan kita? Otak kita? Ginjal kita? Lambung kita? Kelamin kita? Kening kita? Dan semua tubuh kita, sudah berapa persenkah kita gunakan untuk bersyukur selaras dengan tuntunan Allah? Continue reading →